Tanpa Status

 “Hai Ardi.. sudah lama tak berkabar bagaimana keadaan mu, apakah kamu sehat ?? apakah nafsu makan mu bertambah ? bagaimana dengan teman teman mu ? hahaha mungkin kamu sudah Bahagia dengan Wanita yang mencintaimu, tak seperti aku dulu yang menyianyiakan kamu, tapi arya aku sedih mendengar kabar kamu sudah tidak sendiri lagi, entah kenapa ada sesuatu yang menusuk dadaku. Aku bingung dengan perasaan ku…..”

Kringgg…. ( bel tanda masuk kelas)

Aku saat ini sedang duduk di kelas tiga SMA di salah satu SMA Negeri di kota ku, saat ini aku sedang menghadapi masa masa sulit seorang siswa yang akan berubah status menjadi mahasiswa, saat ini aku memang sedang tidak punya pasangan dengan kata lain aku jomblo hahaha, tapi memang diri ku selama sekolah ini tidak pernah terpikirkan untuk punya pasangan atau bisa di bilang aku belum siap berkomitmen, tapi… waktu kelas satu SMA aku pernah dekat dengan beberapa laki laki, dari ketua paskib, anak basket, dan anak pintar kelas sebelah entah masi ada berapa lagi yang menyukaiku, memang aku cukup popular disekolah, aku cantik, ranking sepuluh besar di kelas dan skill Bahasa inggris ku boleh di adu. Tapi dari banyak nya laki laki popular itu aku tertarik pada satu laki laki biasa yang tidak menonjol di kelas dan sekolah, dia adalah laki laki yang tidak memamerkan harta atau pun pangkat, apakah ini rasanya jatuh cinta?

Pertemuan pertama ku dengan dia adalah saat di perpusatakaan. Aku tak mengira orang seperti dia ada di perpustakaan, tapi dugaan ku salah dia ke perpustakaan hanya untuk bolos dengan teman untuk sekedar bermain gim, oiya saat itu aku dan dia masi kelas satu SMA. Saat itu aku juga  sedang menngerjakan tugas makalah Biologi dengan teman teman ku, memang kami suka mengerjakan di perpustakaan karena ruangnya yang dingin dan dekat dengan kantin. Memang kami tak lama di perpustakaan itu karena mendengar suara berisik mereka bermain gim, sebenernya aku tergoda untuk ikut bermain karena itu adalah gim yang aku mainkan juga maka dari pada aku tergoda aku lebih baik ke kelas.

Setelah pertemuan itu hari berlalu aku memang sempat berpaspasan dengan dia di gerbang sekolah ataupun di kantin, mungkin memang karena sekolah ku tidak begitu luas atau aku yang di takdirkan untuk dia hahaha … lucu sekali aku yang popular gini bisa jatuh cinta dengan orang seperti itu, ada ada saja.

Aku memang cukup suka bermain gim, biasanya sih setiap malam  dengan teman ku namanya Aisha. Saat Aisha tidak bisa bermain biasanya aku cari teman lewat telegram untuk bermain bersama. Malam ini teman ku tidak bisa  bermain akhirnya aku cari sendiri teman main, ketemu lah dengan orang itu awalnya aku tidak tau siapa, tetapi aku tidak peduli hingga saat kami ingin mengakhiri gim nya dia meminta Instagram milikku dan dari situ aku tau dia, ya kami memang hanya chat soal gim saja tidak lebih hingga suatu saat aku mulai nyaman dengan dia, selain karena memang dia jago main gim dan selalu bantu menang dia juga memiliki selera humor yang mirip dengan ku.

Suatu malam saat aku sedang belajar ada bunyi notif dari handphone ku “main tidak?” kata dia “aku sedang belajar” balas ku, “ow oke deh” balas dia, “hmm sepertinya aku berubah pikiran, aku ikut main deh” kata ku sambil menutup buku Pelajaran sosiologi. Rutinitas kami setiap selesai  main adalah mengobrol sampai salah satu dari kami ketiduran.

Waktu demi waktu naik nya kami dari kelas 10 ke kelas 11 dan bertambah nya umur membuat hubungan kami semakin dekat, hahaha entah apa hubungannya. Kita berdua yang tadi nya hanya berbincang di dunia maya, tetapi kami mulai berani berbincang dan bertemu secara langsung di sekolah dan diluar sekolah (terkadang). Dia pernah bertanya kepada ku saat kami sedang berada di taman “kayak mana respon temen lo pas tau lo deket sama gw”, dari wajah dia sih dia bertanya soal itu dengan serius, “hmm ya ada yg suka ada yg gak suka ada yg biasa aja sih hahahaha,”  aku menjawab dengan tertawa untuk mencairkan suasana dan kami melanjutkan obrolan santai kami hingga matahri menunjukan tanda tanda ingin terbenam, dia mengantarkan ku pulang dan kami melanjutkan obrolan di chat lalu main gim lalu chat Kembali dan tidur, seperti itu lah Gambaran rutinitas kami.

Suatu hari aku bertanya pada diriku “hubungan ku dengan arya di sebut apa? Dan kenapa aku bisa sesayang itu dengan dia?” kata ku dalam hati, aku mulai menanyakan ke teman teman ku yang sedang dalam hubungan pacaran, jawaban mereka beragam, tetapi ada satu jawaban yang mungkin mirip dengan keadaan ku yaitu tidak tau, jawaban ini di lontarkan oleh sahabat dekat ku, Aisha, kata dia “memang rasa cinta perlu alasan? Aku waktu itu memang Rafa bisa bikin nyaman aja sih terus dia juga peduli dengan orang sekitar mungkin itu alasan nya”. Setelah mendengar jawaban Aisha aku jadi merenungi, mungkin itu yang bikin aku sayang dengan ardi karena dia selalu menamaniku dan dia tidak mau aku sedih. Pesan Aisha kepada ku, “lu harus nanya ke dia sih soal hubungan lu ini dari pada di gantung kan?”.

Aku memikirkan kata kata Aisha tersebut setiap malam hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertanya dengan dia, akan tetapi aku masih takut akan jawabannya dan seperti kurang aja kalau bertanya lewat dunia maya jadi aku memutuskan akan mengajak bertemu minggu depan di taman biasa. Hari berhari berlalu kegiatan ku masi sama saja cuman beda nya ada yang terpikirkan di kepala ku dan itu tentang hubungan ku dengan Ardi.

Hari itu pun tiba “Di menurutmu status dalam hubungan itu penting gak sih?” tanya ku dengan lembut, “menurutku sih penting gak penting, kalo aku sih ikut arus aja kalo memang mau ada status ya bisa ngomong tapi kalo engga ya tidak papa” jawab ardi. Mendengar jawabannya terlintas di benakku apa mau ardi sebenernya, mosok aku yang harus nembak dia duluan. “hmm.. jadi gimana kalo dengan ku, kamu anggap apa?” tanya ku dengan ragu, “maksudnya?” jawab Ardi, ragu. Seketika aku berubah pikiran dengan jawaban dia “tidak papa lupakan” jawab ku, ragu. Setelah mengobral dengan rasa canggung dan tawa tanpa sadar hari sudah semakin sore, sepanjang jalan aku memikirkan kejadian itu.

Hari berhari berlalu aku selalu kepikiran hal tersebut, beberapa kali aku nangis akan hal tersebut sunggu menyedihkan diri ku ini bisa takluk oleh cinta dengan pemuda yang tak sengja ku kenal. Aku bertanya dengan teman temanku tentang bagaiman aku bisa Kembali lagi, tidak bersedih dan berhenti memikirkan dia. Aku bertanya dengan temanku aisha lagi “hmm coba deh lo fokus aja kesekolah dan hiraukan dia” kata Aisha padaku. Aku mencoba saran dari Aisha aku mulai belajar melupakan dia hingga 3 bulan sebelum perpisahan sekolah aku sudah bisa lepas dari dia, aku mengisi kegiatan ku dengan mengikuti lomba, berolahraga dan berorganisasi, semenjak itu teman ku semakin banyak dan luas. Aku berterima kasi kepada aisha dengan mentraktir dia es krim setelah aku memenangkan lomba debat Bahasa Indonesia.

Pada tanggal  27 april aku diajak oleh Aisha untuk ikut acara perpisahan awal nya aku menolak karena aku merasa buat apa acara seperti itu toh aku juga sekolah, teman ku cuman segitu segitu aja, paling acara itu cuman buat anak anak popular pamer fashion, tetapi akhirnya aku terpaksa ikut, acar itu masih 2 minggu lagi sih jadi aku masi bisa mempersiapkan nya kalo kata Aisha “pake baju yang terbaik ya sama jadilah cantik siapa tau dapet satu”, yaa dia memang suka menggoda ku seperti itu.

2 minggu berlalu dan hari ini adalah hari perpisahan itu tiba ya sesuai dengan ekspetasi ku hanya berisi anak popular yang pamer dan anak pinter yang di angkat oleh para guru setinggi langit walaupun aku tau dia itu anak guru, (hehe maaf julid) tetapi ada satu momen yang membuat ku terpaku yaitu aku melihat ardi sedang asik mengobrol dengan Wanita lain, aku tau Wanita itu dan aku yakin aku benar kalo itu ardi, dia terlihat tampan dengan menggunakan jas nya, bahunya yang cukup lembar dan rambut belah Tengah dia yang membuat ku cukup yakin kalau itu ardi. Entah kenapa perasaan itu muncul lagi dan aku seperti cemburu melihat dia “apakah perjuangan ku selama ini gagal?apakah yang sudah ku lakukan untuk melupakan dia sia sia?” kata ku dalam hati. Hal yang semakin membuat ku panas adalah aku melihat dia berfoto dengan Wanita itu, “hai kenapa aku panas lagi pula dia bukan siapa siapa ku” kata ku dalam hati tetapi aku ingin sekali menangis di situ, aku merasa hampa “dasar aku bodoh harusnya aku tidak ikut acara konyol ini” pikiran ku terus beratarung aku ingin acara ini cepat selesai, aku ingin pulang, aku ingin marah dan menangis.

Berhari hari aku larut dalam kesedihan seminggu ku lewati hanya untuk menangis dan curhat ke beberapa teman ku, tetapi hasilnya sama saja aku masi terjebak dalam kesedihan ku. Hingga aku di beri saran oleh Rian dia adalah sahabat cowok yang ku punya dia menyarankan “ coba lu kirim pesan ke dia sesuatu yang ada di hati lu, mungkin bisa bikin lega” kata Rian, aku menganggap itu adalah Tindakan gila. Ya aku lagi lagi menjilat ludah ku sendiri akhinrnya aku mencoba itu dan aku mengirim pesan, aku tidak berharap dia membalas..

 

“Hai Ardi.. sudah lama tak berkabar bagaimana keadaan mu, apakah kamu sehat ?? apakah nafsu makan mu bertambah ? bagaimana dengan teman teman mu ? hahaha mungkin kamu sudah Bahagia dengan Wanita yang mencintaimu, tak seperti aku dulu yang menyianyiakan kamu, tapi ardi aku sedih mendengar kabar kamu sudah tidak sendiri lagi, entah kenapa ada sesuatu yang menusuk dadaku. Aku bingung dengan perasaan ku, saat dulu aku takut berbicara dengan mu secara jujur tentang perasaan ku, tetapi aku malah berusaha melupakaan mu dan kemarin saat di perpisahaan sekolah aku melihat kamu dengan Wanita lain hati ku rasanya hancur sekali kenangan yang sudah kuusahankan terasa sia sia. Aku tak berharap kamu membalas pesan ini dan aku doakan kamu semoga Bahagia selalu dan terimakasih sudah menenamani ku” ~ bertanda Kinan

Komentar